Buku bersampul keras, juga dikenal sebagai buku punggung keras atau hanya sampul keras, memiliki sampul yang lebih kokoh, biasanya terbuat dari karton yang dilapisi kain atau kertas. Terkadang, terdapat jaket debu pada buku untuk melindunginya. Istilah "sampul keras" merujuk pada penjilidan dan tidak selalu menunjukkan kualitas isinya. Beberapa buku bersampul tipis dijilid dengan bahan yang lebih berat dan mungkin memiliki lipatan.
Buku bersampul tebal umumnya lebih mahal daripada buku bersampul tipis karena beberapa alasan:
– Biaya produksi: Pembuatan buku hardcover melibatkan lebih banyak bahan dan proses dibandingkan memproduksi buku paperbackKarton sering digunakan sebagai penguat antara sampul depan dan belakang.
– Daya tahan: Buku bersampul tipis dirancang sementara; harganya lebih murah karena tidak perlu bertahan lama. Buku bersampul tebal menawarkan perlindungan yang lebih baik terhadap keausan, sehingga lebih cocok untuk dibaca berkali-kali atau dipinjam.
– Persepsi: Banyak pembaca menganggap buku bersampul tebal lebih bergengsi atau “lebih baik” daripada buku bersampul tipis, sehingga penerbit dapat mengenakan biaya lebih tinggi.
Ingatlah bahwa poin-poin ini tidak berlaku secara universal; beberapa buku teks memiliki sampul lunak karena siswa mungkin menginginkannya lebih ringan atau lebih murah (atau keduanya). Sebaliknya, edisi berkualitas tinggi dari karya sastra klasik bisa mahal, bahkan dalam bentuk buku saku.
Sebagian orang keliru mengira bahwa semua buku yang dicetak sebelum era buku saku massal diterbitkan secara eksklusif dalam bentuk buku saku. format sampul keras—anggapan itu juga tidak akurat.
Jika berlaku, singkatan Hbk (hardback) biasanya muncul setelah ISBN pada catatan bibliografi. Namun, singkatan ini bukan bagian dari konvensi entri data seperti kode bidang tetap.

